Kategori: Berita Forex

Berita terbaru seputar forex

  • Biaya menginap muncul karena posisi melewati waktu penyelesaian

    Posisi valuta yang masih terbuka melewati waktu penyelesaian harian bisa menambah atau mengurangi saldo. Angka itu berasal dari selisih bunga dua mata uang pada pasangan tersebut, bukan dari naik turunnya grafik pada hari itu. Sisi yang memegang mata uang berbunga lebih tinggi cenderung menerima, sisi sebaliknya cenderung membayar. Karena itu beli dan jual pada pasangan yang sama sering berlawanan tanda.

    Ini terpisah dari selisih harga

    Biaya ini terpisah dari selisih harga beli dan jual. Selisih harga terjadi saat masuk dan saat keluar. Biaya menginap baru terjadi jika posisi melewati waktu penyelesaian. Masuk dan keluar pada hari yang sama bisa hanya menanggung selisih harga. Menahan beberapa hari membuat biaya harian menumpuk, dan bisa menggerus hasil meski arah harga sesuai.

    Tengah pekan bisa dihitung beberapa hari

    Pada sebagian pasangan, posisi yang melewati tengah pekan dihitung beberapa hari sekaligus untuk mencakup akhir pekan. Jumlahnya juga bisa berubah dari hari ke hari. Angka kemarin tidak boleh dipakai sebagai tarif tetap untuk minggu depan.

    Cek tiket sebelum menahan lebih lama

    Kalau rencana menahan lebih dari satu hari, lihat dulu di tiket apakah sisi yang dipilih saat ini menerima atau membayar. Rencana yang hanya menghitung selisih harga akan melewatkan kolom yang makin besar semakin lama posisi dibiarkan.

  • Harga Minyak dan Inflasi Energi: Bagaimana Krisis Geopolitik Mengubah Peta Persaingan Mata Uang Global

    Harga minyak mentah Brent di level $81 per barel telah menjadi faktor dominan yang membentuk kembali lanskap pasar valas global pada paruh pertama 2026. Kenaikan harga energi sebesar 23,5% sejak awal tahun, yang dipicu oleh konflik Iran dan gangguan di Selat Hormuz, telah menciptakan lingkungan trading yang penuh tantangan bagi semua mata uang utama.

    Dampak harga minyak terhadap pasar valas bersifat berlapis dan tidak seragam. Negara-negara pengekspor minyak seperti Kanada dan Norwegia memperoleh manfaat dari pendapatan ekspor yang lebih tinggi, yang mendukung mata uang seperti dolar Kanada (CAD) dan krone Norwegia (NOK). Sementara itu, negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang dan India menghadapi biaya impor yang lebih tinggi dan tekanan depresiasi mata uang.

    Laporan Badan Energi Internasional (IEA) bulan Juli memperingatkan bahwa risiko pasokan minyak global tetap tinggi. Pengiriman melalui Selat Hormuz — jalur yang membawa sekitar sepertiga minyak dunia yang diperdagangkan melalui laut — masih hanya beroperasi pada 5% dari kapasitas normal. Jika situasi di Timur Tengah memburuk, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi lagi, memicu dampak berantai di seluruh pasar valas global.

    Bagi para trader valas, memahami hubungan antara harga minyak dan pergerakan mata uang menjadi semakin penting di lingkungan saat ini. Strategi diversifikasi dengan mempertimbangkan mata uang negara pengekspor energi dapat menjadi pendekatan yang bijaksana untuk mengelola risiko portofolio di tengah ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung.

  • EUR/USD di Bawah Tekanan: Mengapa Euro Kesulitan Meskipun ECB Naikkan Suku Bunga

    Euro menghadapi tekanan berat di akhir Juli 2026, dengan EUR/USD diperdagangkan di level 1,1394 — mendekati level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Ironisnya, pelemahan ini terjadi meskipun Bank Sentral Eropa (ECB) baru saja menaikkan suku bunga menjadi 2,25% pada pertemuan 23 Juli lalu.

    Akar masalahnya terletak pada selisih suku bunga yang sangat lebar. Meskipun ECB telah menaikkan suku bunga, selisih 125-150 basis poin dengan suku bunga The Fed masih menjadi beban besar bagi Euro. Investor global lebih memilih untuk menempatkan modal mereka dalam aset berdenominasi dolar AS yang menawarkan imbal hasil jauh lebih tinggi.

    Secara teknikal, level 1,13 adalah support kunci bagi EUR/USD. Jika level ini ditembus, Euro akan jatuh ke level terendah sejak akhir 2024, dengan potensi penurunan lebih lanjut menuju 1,10. Namun, jika The Fed mengambil sikap yang lebih dovish dari perkiraan, EUR/USD bisa memantul kembali ke kisaran 1,16-1,18.

    Data ekonomi Eropa juga memberikan gambaran yang beragam. Inflasi zona euro berada di sekitar 3,2%, di atas target ECB tetapi jauh di bawah level AS. Pertumbuhan ekonomi yang lemah di kawasan Eropa semakin membatasi kemampuan ECB untuk terus menaikkan suku bunga. Trader perlu memantau hasil FOMC dengan cermat karena akan menjadi katalis utama bagi pergerakan EUR/USD dalam waktu dekat.

  • Yen Terus Melemah: Langkah Normalisasi BOJ Tertinggal dari Ekspektasi Pasar | Analisis Pasar Forex

    Yen terus menjadi “mata uang utama terlemah” di pasar forex global. USD/JPY bertahan di atas level 160, indeks nilai tukar efektif riil Yen jatuh ke level terendah hampir 39 tahun.

    Penyebab utama adalah perbedaan suku bunga besar antara Jepang dan ekonomi utama. BOJ telah menaikkan suku bunga menjadi sekitar 0.25%, tetapi dibandingkan suku bunga Fed 5.25%-5.50%, perbedaannya masih sangat besar.

    Gubernur BOJ Ueda mengakui dampak negatif pelemahan Yen, tetapi menekankan keputusan kebijakan berdasarkan prospek ekonomi. Secara teknis, USD/JPY masih dalam tren naik jelas dengan level 160 sebagai dukungan.

  • NZD Melonjak Kuat: Sinyal Hawkish RBNZ Mendorong Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga | Analisis Pasar Forex

    Dolar Selandia Baru (NZD) telah menjadi salah satu mata uang G10 dengan kinerja paling menonjol. Didorong oleh data manufaktur yang kuat dan sinyal hawkish dari RBNZ, NZD telah naik secara berkelanjutan.

    Data PMI manufaktur Selandia Baru jauh melampaui ekspektasi. Pasar tenaga kerja juga tangguh dengan pengangguran mendekati level terendah bersejarah. Trader sekarang memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga RBNZ Juli sekitar 80%.

    Bloomberg melaporkan hedge fund membangun posisi short bersih NZD rekor, menciptakan risiko “short squeeze”. Prospek: keputusan suku bunga RBNZ Juli akan menjadi peristiwa kunci penentu arah NZD jangka pendek.

  • Pratinjau Pertemuan Fed Juli: Indeks USD di Bawah Tekanan, Pasar Bertaruh pada Waktu Pergeseran Kebijakan | Analisis Pasar Forex

    Menjelang pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve AS pada 28-29 Juli, pasar forex global memasuki fase yang sangat sensitif. Para pelaku pasar dengan cermat memantau setiap data ekonomi dan sinyal kebijakan yang dapat mempengaruhi keputusan suku bunga Fed.

    Data ekonomi terbaru menunjukkan gambaran yang kompleks. Pasar tenaga kerja AS masih kuat, tetapi inflasi PCE inti masih jauh dari target 2% Fed. Menurut CME FedWatch, probabilitas Fed mempertahankan suku bunga sekitar 75%, dengan ekspektasi pemotongan suku bunga September meningkat.

    EUR/USD bertahan di kisaran 1.08-1.10. USD/JPY masih pada level tinggi karena BOJ menormalkan kebijakan lebih lambat dari ekspektasi. Trader akan memantau setiap kata Ketua Fed Powell pada konferensi pers. Jika dovish, USD mungkin tertekan; jika hawkish, USD dapat support jangka pendek.

  • Emas Bertahan di Atas .000, Minyak Tertekan oleh Data CPI

    Emas Bertahan di Atas $4.000, Minyak Tertekan oleh Data CPI

    Harga emas terus diperdagangkan di atas level $4.000/oz setelah data CPI AS yang lemah. Pada harga saat ini $4.040/oz, emas mendapat dukungan dari ekspektasi pemotongan suku bunga Fed.

    Minyak mentah WTI diperdagangkan dalam kisaran $72-$74, menghadapi tekanan dari penurunan permintaan. Impor minyak China yang turun 41% menambah kekhawatiran pasar.

    Di xmyblogs, trader dapat mengakses berbagai instrumen trading termasuk forex, emas, dan komoditas dengan platform MT4/MT5 profesional.

  • CPI AS Juni Melambat di Atas Ekspektasi, Dolar AS Melemah

    CPI AS Juni Melambat di Atas Ekspektasi, Dolar AS Melemah

    Data CPI Amerika Serikat bulan Juni menunjukkan inflasi melambat lebih dari perkiraan pasar. CPI bulanan tercatat -0,4%, jauh di bawah ekspektasi -0,1% dan lebih rendah dari +0,5% pada bulan sebelumnya.

    CPI tahunan turun dari 4,2% menjadi 3,5%, sementara CPI inti tahunan turun menjadi 2,6%. Indeks energi merosot -5,7% – penurunan bulanan terbesar sejak April 2023. Biaya perumahan juga melambat signifikan menjadi hanya 0,1%.

    Pasar bereaksi cepat. Indeks Dolar AS melemah, EUR/USD dan GBP/USD melonjak. Emas tetap stabil di atas $4.000. Ekspektasi pemotongan suku bunga Fed semakin menguat.

    Ketua Fed Warsh dalam sidang Kongres memperingatkan tentang inflasi yang terus berlanjut namun menghindari memberikan panduan suku bunga jangka pendek, yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal netral hingga dovish.

    Data perdagangan China juga melampaui ekspektasi – ekspor +27%, impor +36%, surplus perdagangan $1.256 miliar.

    Trader di xmyblogs dapat memanfaatkan kondisi pasar ini untuk bertransaksi forex, emas, dan komoditas dengan spread kompetitif.

  • The Fed Hawkish: Dolar Menguat, Bitcoin dan Mata Uang Lain Tertekan

    Notulen rapat FOMC Juni yang dirilis minggu ini mengirimkan sinyal hawkish yang jelas. Mayoritas anggota mendukung mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk jangka waktu lebih lama guna mengatasi tekanan inflasi yang terus berlanjut.

    Christopher Waller, Gubernur Fed, menegaskan bahwa meskipun inflasi telah mereda, masih jauh dari target 2%. Fed “tidak boleh melonggarkan kebijakan terlalu dini”. Pasar tenaga kerja masih kuat dan ekonomi mampu menahan suku bunga tinggi.

    Indeks Dolar AS melonjak di atas 105,5, level tertinggi dalam hampir dua bulan. Euro jatuh di bawah 1,07 dolar, Pound Sterling turun ke 1,26 dolar. Yen Jepang tetap lemah di sekitar 155 yen per dolar. Yuan offshore turun ke 7,28. Bitcoin jatuh di bawah 61.000 dolar, level terendah dalam satu bulan.

    Ekspektasi pasar untuk pemotongan suku bunga pada September telah turun drastis dari 60% menjadi di bawah 30%. Investor perlu memantau data PCE AS dan data penggajian non-pertanian untuk menilai arah kebijakan Fed selanjutnya.

  • Emas Tembus Rekor USD 4.850: Ketegangan Timur Tengah dan Pembelian Bank Sentral

    Futures emas COMEX menembus level USD 4.820 per ons minggu ini dan mencapai rekor tertinggi baru USD 4.850. Kenaikan ini didorong oleh dua faktor utama: kerapuhan gencatan senjata Lebanon dan ekspektasi pasar bahwa Fed mungkin beralih ke sikap yang lebih akomodatif di masa depan.

    Kesepakatan gencatan senjata Lebanon telah ditandatangani, namun pasar bereaksi dengan hati-hati. Perselisihan inti antara Iran dan Israel masih belum terselesaikan. Iran melanjutkan program pengayaan uraniumnya, sementara Israel menganggapnya sebagai ancaman eksistensial.

    Bank sentral global membeli bersih 520 ton emas pada paruh pertama 2026, meningkat 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bank Rakyat China memimpin dengan 18 bulan pembelian berturut-turut.

    Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir tahun 2026 dari USD 4.800 menjadi USD 5.200. Analis menyarankan investor untuk membeli emas saat koreksi harga.