Indeks Dolar AS (DXY) melanjutkan penguatan kuat pada perdagangan Senin, menembus level 99,5 dan mendekati level psikologis 100. Ini merupakan kinerja mingguan terkuat dolar AS dalam lebih dari sebulan, didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi pergantian kepemimpinan Federal Reserve.
Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 1% ke atas $110 per barel setelah laporan bahwa Pentagon bersiap melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Selat Hormuz, jalur transportasi minyak terpenting di dunia, menjadi fokus utama ketika Iran mengumumkan akan membentuk mekanisme manajemen lalu lintas pelayaran baru yang hanya akan dibuka untuk kapal yang bekerja sama dengan Teheran.
Situasi ini mendorong aliran modal ke aset aman (safe haven), dengan dolar AS menjadi penerima manfaat utama. Euro melemah ke $1,1609, pound sterling turun ke $1,3305, sementara dolar Australia yang sensitif terhadap risiko melemah 0,4% ke $0,7121.
Di Asia, dampak terhadap mata uang regional sangat terasa. Yuan offshore diperdagangkan di 6,8163 per dolar AS, sementara yen Jepang tetap lemah di 158,84 per dolar, meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan intervensi oleh Kementerian Keuangan Jepang.
Rupee India menciptakan level terendah sepanjang masa mendekati 96 per dolar AS, didorong oleh biaya impor minyak yang terus meningkat. India, sebagai konsumen minyak terbesar ketiga dunia, sangat rentan terhadap kejutan harga minyak.
Sementara itu, rupiah Indonesia turut tertekan di tengah penguatan dolar AS yang meluas. Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau pergerakan rupiah dan siap melakukan intervensi jika diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Federal Reserve akan berganti kepemimpinan minggu ini dengan konfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua Fed yang baru. Pasar menantikan pidato pertama Warsh untuk mendapatkan sinyal mengenai arah kebijakan moneter. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi, dengan yield notes 10 tahun mencapai 4,607%, mendekati level tertinggi dalam setahun. Analis Barclays menulis bahwa kondisi untuk penguatan dolar AS sangat kondusif minggu ini.
Pasar akan fokus pada risalah pertemuan FOMC dan data PMI AS pekan ini, yang dapat memberikan gambaran tentang seberapa besar kekhawatiran di kalangan pejabat Fed mengenai inflasi yang berkelanjutan, dan apakah momentum aktivitas AS tetap bertahan di bawah kondisi keuangan yang lebih ketat.
Disclaimer: Trading forex dan CFD mengandung risiko tinggi. Pastikan Anda memahami risiko sebelum berdagang.