Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian pasar keuangan global. Iran mengumumkan pembentukan mekanisme manajemen lalu lintas maritim baru di jalur strategis ini. Selat Hormuz menangani sekitar 20% dari pasokan minyak global, sehingga setiap gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada harga energi dan pasar valuta asing.
Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 1% menembus $110 per barel. Kenaikan ini didorong oleh laporan bahwa Pentagon bersiap melanjutkan operasi militer terhadap Iran, serta kekhawatiran bahwa Selat Hormuz akan tetap tersumbat untuk waktu yang lebih lama.
Dolar AS menjadi penerima manfaat utama dari krisis ini. Analis Barclays memperkirakan bahwa dolar AS dapat menguat 0,5% hingga 1% untuk setiap kenaikan 10% harga minyak. Dengan minyak kini di atas $110, potensi penguatan dolar lebih lanjut sangat signifikan.
Euro jatuh ke $1,1609, pound sterling melemah ke $1,3305. Yield obligasi pemerintah AS 10 tahun naik ke 4,607%, mendekati level tertinggi dalam setahun, karena kekhawatiran gangguan energi di Timur Tengah akan memicu inflasi yang lebih tinggi.
Di pasar komoditas, situasinya berbeda. Emas COMEX justru anjlok lebih dari 3% ke $4.543,60 per ons, sementara perak ambles lebih dari 10%. Analis menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Saham-saham Asia juga tertekan oleh sentimen risk-off. Indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea mencatat pelemahan signifikan di tengah kekhawatiran eskalasi konflik Timur Tengah.
Mata uang Asia tertekan oleh penguatan dolar yang meluas:
Pekan ini pasar menantikan risalah FOMC dan data PMI AS yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai kebijakan Fed ke depan.
Disclaimer: Trading forex dan CFD mengandung risiko tinggi. Pastikan Anda memahami risiko sebelum berdagang.