Dominasi dolar AS di pasar forex global terus berlanjut memasuki pertengahan tahun 2026. Risalah FOMC Juli yang hawkish, data tenaga kerja yang solid, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi tiga pilar utama yang mendukung penguatan greenback.
Klaim pengangguran AS yang berada di angka 215.000 – lebih rendah dari ekspektasi pasar – menjadi bukti bahwa pasar tenaga kerja AS masih dalam kondisi prima. Data ini memperkuat narasi bahwa The Fed tidak perlu terburu-buru untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
CPI AS bulan Juni yang sedikit melandai memberikan sedikit kelegaan, namun para pelaku pasar tidak boleh lengah. Inflasi jasa inti yang masih tinggi menunjukkan bahwa tekanan harga di sektor-sektor utama masih berlangsung, dan The Fed kemungkinan akan tetap pada jalur kebijakan yang ketat.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang turun ke 4,545% mencerminkan adanya ketegangan antara ekspektasi suku bunga yang hawkish dan kekhawatiran perlambatan ekonomi. Penurunan ini justru bisa dilihat sebagai sinyal bahwa pasar mulai mengkalkulasi risiko resesi global akibat tingginya suku bunga.
Dari Asia, yen Jepang masih menjadi titik lemah di tengah ketidakpastian kebijakan moneter BOJ. Ketidakjelasan arah kebijakan BOJ membuat yen rentan terhadap tekanan jual, terutama dengan spread suku bunga yang lebar antara Jepang dan AS.
Konflik Israel-Iran yang memanas telah memicu aksi jual besar-besaran pada aset berisiko, termasuk mata uang emerging Asia. Arus modal keluar dari pasar emerging memperburuk pelemahan mata uang regional termasuk rupiah Indonesia.
Dari sisi teknikal, Indeks Dolar AS (DXY) menunjukkan pola penguatan yang solid dengan support kuat di level-level saat ini. Selama The Fed belum memberikan sinyal perubahan sikap, dolar AS diperkirakan akan tetap mendominasi pasar forex global.
Pasar kini menantikan data PPI dan penjualan ritel AS pekan depan untuk konfirmasi lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Para trader forex disarankan untuk tetap waspada terhadap potensi volatilitas tinggi yang bisa dipicu oleh kejutan data ekonomi maupun eskalasi konflik di Timur Tengah.
Leave a Reply